Jantung Mbah Semi berdegub kencang melihat
timbangan raksasa di depannya. Dia ngeri
melihat nasib Kang Parto yang dilemparkan ke lautan api oleh mahluk-mahluk
tinggi besar mengerikan itu. “Mudah-mudahan nasipku seperti Yu karti,” gumamnya
saat menyaksikan Yu karti diantar oleh sepasang muda mudi yang rupawan dan
ramah menuju rumah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang airnya sangat
jernih. “Betapa indahnya, tak pernah kulihat pemandangan seindah itu,” katanya
dalam hati.
Tanggal
1 Agustus 1923 dia dilahirkan,” kata mahluk bersayap mulai membaca buku besar
yang disampulnya bertuliskan dengan huruf besar: AMAL-AMAL SEMI BINTI RAKIJAN.
“Semua amalnya dihitung sejak tanggal 23 juli 1937 saat pertama kali dia datang
bulan. Membantu orang tua di sawah. Masukan ke timbangan bagian kanan!’ teriak
mahluk itu kepada dua anak buahnya. Keduanya segera memasukannya ke bagian
kanan sehingga timbangan itu njomplang
ke kanan.
“mencuri semangka tetangga, masukan di kiri,” kata
mahluk itu lagi. Kali ini yang sebelah kiri lebih berat. Tubuh mbah Semi
gemetar kerena ketakutan yang sangat,”Ya Allah ampuni aku! Bisakah kiranya
hamba kembali ke dunia untuk minta maaf kepada Yu Darmi si pemilik semangka itu?”.
“Heh kamu tahu sekarang ada dimana
kan? Sudah tidak ada lagi pengampunan dosa di sini. Pintu taubat sudah ditutup
rapat. Sekarang tinggal perhitungannya. Kita lihat apakah kamu termasuk ahli
surga atau neraka. Tahu!” bentak
mahluk tinggi besar menyeramkan yang tadi melemparkan Kang Parto ke lautan api
dengan memutar-mutar pentungan
raksasa yang ada di tangannya. Mbah Semi semakin menggigil ngeri.
“Tanggal
25 januari 1957. memberi beras kepada tetangga yang membutuhkan. Di kanan!”.
Timbangan tak berubah tetap njomplang
ke sebelah kiri. “shodakoh di masjid 200 rupiah. Di kanan!”. Timbangan juga tak
juga njomplang ke kanan. Rupanya dosa Mbah Semi sudah teramat banyak sehingga
amal baiknya tak mampu mengimbanginya. “aduh bagaimana ini?” kepada siapa aku
meminta tolong?” Keluh Mbah semi.
“Tanggal
21 Mei 1999. Puasa, di kanan. Selesai!”
“Ya
Tuhan, timbangan itu tetap berat yang kiri. Masya
Allah, Astaghfirullah, nnalillah, aku masuk neraka” kata Mbah Semi setengah
berteriak ketika melihat timbangan raksasa di depannya itu. Kini tak ada lagi yang
mampu menolongnya. Kekayaan, ketenaran dan kekuasaan yang dulu pernah
dimilikinya tak lagi dapat menolongnya. Sama sekali! Malah memberatkan
timbangan ke kiri. “ayo gelandang dia ke neraka, cepat!” kata mahluk bersayap
itu kepada dua mahluk besar itu.
Mbah
Semi meronta-rontya, “aku bertaubat! Aku bertaubat!”
“Sudah
terlambat. Sekali lagi sudah terlambat!” bentak mahluk itu.
“Beri
aku kesempatan lagi. Setahun saja!’
“Tidak
bisa”
“Sebulan
saja”
“Tidak
bisa”
“Sehari
saja”
“Bahkan
sedetik pun tidak!”. Kedua mahluk itu terus menyeretnya tanpa menghiraukan
rintihannya menuju api yang mengerikan. Di sana hanya ada derita, hanya ada
sengsara. Yang terdengar hanya tangis kepiluan, jeritan kesakitan dan ruang
penderitaan. Yang tercium hanya bau anyir dan busuk. “Ya Allah, celaka aku.
Seandainya...” kata Mbah Semi tak berhenti menyesali diri.
Dua
mahluk itu sudah siap melemparkan Mbah Semi melayang di atas samudra api itu.
Belum sempat jelitan api membakar Mbah Semi tiba-tiba ada cahaya yang
berkelebat menyambarnya. Kemudian tampak seorang pemuda tampan membopong Mbah
Semi kembali di depan timbangan raksasa.
Mahluk
bersayap itu terkesima melihat pemandangan yang ada di depanya, “Hai siapa
kamu? Apa yang kamu lakukan?”. Pemuda itu tak menghiraukan pertanyaan mahluk
itu. Diturunkanya Mbah Semi dari bopongannya sambil memandang haru, “Simbok”.
Mbah Semi tercekat tak mampu berkata-kata.
“Simbok,
apa simbok tidak mengenalku?”
Mbah
Semi menarik nafas panjang untuk menguasai diri,”Simbok? Mengapa anda memanggilku
simbok?”
“coba
simbok lihat baik-baik diriku ini!”
Mbah
Semi memandangi pemuda itu dengan seksama, “Oh... pemuda ini mirip sekali
dengan Siran, anakku satu-satunya. Tapi anakku tidaklah tampan seperti dia.
Tubuhnya kotor karena jarang mandi. Dia hanya mau mandi kalau aku yang
memandikanya. Tatapan mata anakku adalah tatapan mata yang bodoh karena dia
ediot tidak seperti tatapan pemuda ini yang penuh kasih.
“simbok
ini aku Siran anakmu. Kini aku tinggal di surga. Aku jadi pelayan di sana” kata
pemuda itu sambil memegang bahu ibunya.
Mbah
Semi tersenyum. Rasa rindu pada anaknya
yang mati muda itu kembali menelusup ke relung jiwanya. Mabh Semi hampir
memeluk puteranya itu sebelum makhluk bersayap itu berteriak,”Hie, kalian telah
mengganggu proses pengadilan akbar ini. Pemuda tampan, cepat kembali ke surga
dan kau Semi tempatmu adalah neraka”.
“Tidak.
Aku akan membawanya ke surga” seru pemuda itu.
“ke
surga katamu? Jangan bercanda anak muda. Lihatlah timbangan itu, dosanya lebih
berat dari pada pahalanya bukan?”
“Memang
tapi tempatnya adalah di surga”
“Bagaimana
dia ke surga?”
“Dengan ini” katanya pemuda itu sambil
memperlihatkan bungkusan yang dipegangnya.
“Apa
itu pemuda?” tanya mahluk bersayap itu.
Pemuda
itu membuka bungkusan itu. Ternyata isinya adalah piring, gelas, baju rombeng
yang jelek, celana kotor dan sarung batik yang berlobang disana-sini. Mahluk
bersayap itu tertawa mengejek,”dengan barang murahan itu kau mau membawa ibumu
ke surga?”
Sang
pemuda tidak menjawab. Dengan secepat kilat dia terbang ke angkasa dan
meletakkan benda-benda itu di timbangan bagian kanan. Seketika timbangan itu njomplang ke kanan. Kemudian di berseru,
“sekarang lihatlah, timbangan itu telah njomplang
ke kanan buakn?”
“Apa-apaan
ini? Mengapa barang murahan itu bisa membuat timbangan itu njomplang ke kanan?” kata mahluk itu keheranan.
“Begini saja kau boleh meletakkan apapun di
sebelah kiri. Kalu timbangan itu dapat njomplang
ke kiri aku akan merelakan ibuku tinggal di neraka. Bagaimana setuju?” tantang
pemuda itu dengan penuh percaya diri.
“Baiklah
aku setuju”. Malaikat itu mengambil gunung dan ditaruhnya gunung itu di kiri.
Tapi timbangan itu tak bergeming sedikitpun. Kemudian diambilnya samudra.
Tetapi tetap saja timbangan itu njomplang
ke kanan.
“Hai
Malaikat, jangankan gunung dan samudra alam semesta pun taakan mampu” teriak
pemuda itu balik mengejek.
Malaikat
itu segera mengambil seluruh benda yang ada di alam semesta: matahari, bulan,
bumi, planet, komet dan lain-lain. Tapi tak juga mampu membuat timbangan itu njomplang ke kiri.
Malaikat itu menghampiri pemuda itu sambil berkat,
“wahai pemuda tampan, benda-benda apakah yang kau taruh di timbangan itu
sehingga beratnya melebihi berat seluruh alam semesta?”
“Itu
adalah Cinta”
“Cinta? apa itu?”
“Kau
taakan tahu. Sekarang bolehkah aku membawa ibuku ke surga?”
“Balum.
Aku akan melapor dulu kepada Tuhan karena kejadian ini sangatlah aneh bagiku”
“Lho
kan sudah jelas yang kanan lebih berat dari pada yang kiri. Kurang apa lagi?”
“Aku
tidak bisa memutuskan. Aku minta fatwa dulu kepada Tuhan”. Malaikat itu melesat
pergi.
Tak
lama kemudian dia kembali dengan membawa layar raksasa. Pemuda itu tak sabar
lagi dan mendekati malaikat itu. Semua mata tertuju kepada layar raksasa itu.
“Mbah
Semi... Mbah Semi. Siran mbah” kata seorang anak yang datang tergopoh-gopoh.
“Siran kenapa?”
“Siran
ngamuk di Musholla”
Mbah
Semi yang sudah renta itu berlari ke mushola. Dilihatnya anak satu-satunya itu
memegang kayu besar dan memukul-mukulkanya ke benda-benda yang ada didepanya.
“Siran, Sudah....sudah. ayo pulang ya. Simbok memasak makanan kesukaanmu lho,
semur jengkol” kata mbah semi penuh kasih. Laki-laki gila itu menatap Mbah
Semi, ibunya. Dibuangnya kayu yang dipegangnya itu dan digandeng tangan ibunya
pulang.
Sehabis
jamaah maghrib Mbah Semi menghadap imam mushola, “Pak maafkan anak saya ya”.
“Ya
mbah. Tapi...”
“Tapi
apa Pak?”
“Begini
Mbah, gelas dan piring investasi musholla banyak yang pecah”
“Ya
sudah nanti saya ganti semua”
Layar
itu menampilkan adegan berikutnya.
Tampak
seorang pemuda mengetuk pintu rumah Mbah Semi.
“Eh Mas Pardi. Silahkan masuk Mas. Maaf rumah saya
berantakan. Tadi Siran ngamuk lagi. Ada apa ya Mas?”
“Begini
Mbok tadi pagi waktu di sawah baju dan celana kolor saya di buang siran ke
sungai. Jadi saya ke sini mau minta ganti”
O...
begitu. Iya-iya nanti pasti saya ganti, tapi besok ya sebab saya harus beli
dulu di pasar”. Keesokan harinya Mbah Semi pergi ke pasar membeli baju dan
celana kolor sebagai ganti baju dan celana Mas pardi yang dibuang siran ke
sungai.
Anak
Mbah Semi satu-satunya itu memang gila sejak kecil. Dia suka ngamuk dan punya
kebiasaan membuang apa saja yang ditemuinya. Sudah tak terhiung banyaknya
barang-barang yang dibuangnya sehingga tidak sedikit dana yang dikeluarkan Mbah
Semi demi mengganti barang-barang itu. Perhiasanya sudah hampir habis terjual
karena ulah anak satu-satunya itu.
Dulu
Mbah Semi pernah membawa anaknya berobat ke rumah sakit jiwa. Bukan hanya
sekali tetapi empat kali namun tak ada hasilnya. Entah sudah berapa kali Mbah
Semi datang ke Kiai dan paranormal demi kesembuhan anaknya. Tetapi hasilnya
nihil.
“Mengapa
Siran tak dibawa ke panti saja to yu. Di sana ada yang merawatnya dan Yu Semi
nggak usah mengeluarkan banyak uang “kata Mbah Surti, adik Mbah Semi, suatu
kali.
“Ngak
Sur. Bagaimanapun Siran itu anakku. Biar aku sendiri yang merawatnya. Aku
sangat sayang kepada dia. Siapa tahu dialah yang menolongku kelak di akhirat”
“Tapi
Yu kalu begini terus hartamu bisa habis untuk menganti barang-barang yang
dirusak dan dibuang Siran”
“Aku
sudah Siap kok sur. Biarlah hartaku habis asal aku tetap bersama siran. Dia itu
miliku satu-satunya.
Subehanalloh................

No comments:
Post a Comment