Friday, May 3, 2013

CERPEN - Anak Gilanya Menuntun Ke Surga




            Jantung Mbah Semi berdegub kencang melihat timbangan raksasa di depannya. Dia ngeri melihat nasib Kang Parto yang dilemparkan ke lautan api oleh mahluk-mahluk tinggi besar mengerikan itu. “Mudah-mudahan nasipku seperti Yu karti,” gumamnya saat menyaksikan Yu karti diantar oleh sepasang muda mudi yang rupawan dan ramah menuju rumah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang airnya sangat jernih. “Betapa indahnya, tak pernah kulihat pemandangan seindah itu,” katanya dalam hati.
            Tanggal 1 Agustus 1923 dia dilahirkan,” kata mahluk bersayap mulai membaca buku besar yang disampulnya bertuliskan dengan huruf besar: AMAL-AMAL SEMI BINTI RAKIJAN. “Semua amalnya dihitung sejak tanggal 23 juli 1937 saat pertama kali dia datang bulan. Membantu orang tua di sawah. Masukan ke timbangan bagian kanan!’ teriak mahluk itu kepada dua anak buahnya. Keduanya segera memasukannya ke bagian kanan sehingga timbangan itu njomplang ke kanan.
“mencuri semangka tetangga, masukan di kiri,” kata mahluk itu lagi. Kali ini yang sebelah kiri lebih berat. Tubuh mbah Semi gemetar kerena ketakutan yang sangat,”Ya Allah ampuni aku! Bisakah kiranya hamba kembali ke dunia untuk minta maaf kepada Yu Darmi si pemilik semangka itu?”. “Heh kamu tahu sekarang ada dimana kan? Sudah tidak ada lagi pengampunan dosa di sini. Pintu taubat sudah ditutup rapat. Sekarang tinggal perhitungannya. Kita lihat apakah kamu termasuk ahli surga atau neraka. Tahu!” bentak mahluk tinggi besar menyeramkan yang tadi melemparkan Kang Parto ke lautan api dengan memutar-mutar pentungan raksasa yang ada di tangannya. Mbah Semi semakin menggigil ngeri.
            “Tanggal 25 januari 1957. memberi beras kepada tetangga yang membutuhkan. Di kanan!”. Timbangan tak berubah tetap njomplang ke sebelah kiri. “shodakoh di masjid 200 rupiah. Di kanan!”. Timbangan juga tak juga njomplang ke kanan. Rupanya dosa Mbah Semi sudah teramat banyak sehingga amal baiknya tak mampu mengimbanginya. “aduh bagaimana ini?” kepada siapa aku meminta tolong?” Keluh Mbah semi.
            “Tanggal 21 Mei 1999. Puasa, di kanan. Selesai!”
            “Ya Tuhan, timbangan itu tetap berat yang kiri. Masya Allah, Astaghfirullah, nnalillah, aku masuk neraka” kata Mbah Semi setengah berteriak ketika melihat timbangan raksasa di depannya itu. Kini tak ada lagi yang mampu menolongnya. Kekayaan, ketenaran dan kekuasaan yang dulu pernah dimilikinya tak lagi dapat menolongnya. Sama sekali! Malah memberatkan timbangan ke kiri. “ayo gelandang dia ke neraka, cepat!” kata mahluk bersayap itu kepada dua mahluk besar itu.
            Mbah Semi meronta-rontya, “aku bertaubat! Aku bertaubat!”
            “Sudah terlambat. Sekali lagi sudah terlambat!” bentak mahluk itu.
            “Beri aku kesempatan lagi. Setahun saja!’
            “Tidak bisa”
            “Sebulan saja”
            “Tidak bisa”
            “Sehari saja”
            “Bahkan sedetik pun tidak!”. Kedua mahluk itu terus menyeretnya tanpa menghiraukan rintihannya menuju api yang mengerikan. Di sana hanya ada derita, hanya ada sengsara. Yang terdengar hanya tangis kepiluan, jeritan kesakitan dan ruang penderitaan. Yang tercium hanya bau anyir dan busuk. “Ya Allah, celaka aku. Seandainya...” kata Mbah Semi tak berhenti menyesali diri.
            Dua mahluk itu sudah siap melemparkan Mbah Semi melayang di atas samudra api itu. Belum sempat jelitan api membakar Mbah Semi tiba-tiba ada cahaya yang berkelebat menyambarnya. Kemudian tampak seorang pemuda tampan membopong Mbah Semi kembali di depan timbangan raksasa.
            Mahluk bersayap itu terkesima melihat pemandangan yang ada di depanya, “Hai siapa kamu? Apa yang kamu lakukan?”. Pemuda itu tak menghiraukan pertanyaan mahluk itu. Diturunkanya Mbah Semi dari bopongannya sambil memandang haru, “Simbok”. Mbah Semi tercekat tak mampu berkata-kata.
            “Simbok, apa simbok tidak mengenalku?”
            Mbah Semi menarik nafas panjang untuk menguasai diri,”Simbok? Mengapa anda memanggilku simbok?”
            “coba simbok lihat baik-baik diriku ini!”
            Mbah Semi memandangi pemuda itu dengan seksama, “Oh... pemuda ini mirip sekali dengan Siran, anakku satu-satunya. Tapi anakku tidaklah tampan seperti dia. Tubuhnya kotor karena jarang mandi. Dia hanya mau mandi kalau aku yang memandikanya. Tatapan mata anakku adalah tatapan mata yang bodoh karena dia ediot tidak seperti tatapan pemuda ini yang penuh kasih.
            “simbok ini aku Siran anakmu. Kini aku tinggal di surga. Aku jadi pelayan di sana” kata pemuda itu sambil memegang bahu ibunya.
            Mbah Semi tersenyum.  Rasa rindu pada anaknya yang mati muda itu kembali menelusup ke relung jiwanya. Mabh Semi hampir memeluk puteranya itu sebelum makhluk bersayap itu berteriak,”Hie, kalian telah mengganggu proses pengadilan akbar ini. Pemuda tampan, cepat kembali ke surga dan kau Semi tempatmu adalah neraka”.
            “Tidak. Aku akan membawanya ke surga” seru pemuda itu.
            “ke surga katamu? Jangan bercanda anak muda. Lihatlah timbangan itu, dosanya lebih berat dari pada pahalanya bukan?”
            “Memang tapi tempatnya adalah di surga”
            “Bagaimana dia ke surga?”
“Dengan ini” katanya pemuda itu sambil memperlihatkan bungkusan yang dipegangnya.
            “Apa itu pemuda?” tanya mahluk bersayap itu.
            Pemuda itu membuka bungkusan itu. Ternyata isinya adalah piring, gelas, baju rombeng yang jelek, celana kotor dan sarung batik yang berlobang disana-sini. Mahluk bersayap itu tertawa mengejek,”dengan barang murahan itu kau mau membawa ibumu ke surga?”
            Sang pemuda tidak menjawab. Dengan secepat kilat dia terbang ke angkasa dan meletakkan benda-benda itu di timbangan bagian kanan. Seketika timbangan itu njomplang ke kanan. Kemudian di berseru, “sekarang lihatlah, timbangan itu telah njomplang ke kanan buakn?”
            “Apa-apaan ini? Mengapa barang murahan itu bisa membuat timbangan itu njomplang ke kanan?” kata mahluk itu keheranan.
“Begini saja kau boleh meletakkan apapun di sebelah kiri. Kalu timbangan itu dapat njomplang ke kiri aku akan merelakan ibuku tinggal di neraka. Bagaimana setuju?” tantang pemuda itu dengan penuh percaya diri.
            “Baiklah aku setuju”. Malaikat itu mengambil gunung dan ditaruhnya gunung itu di kiri. Tapi timbangan itu tak bergeming sedikitpun. Kemudian diambilnya samudra. Tetapi tetap saja timbangan itu njomplang ke kanan.
            “Hai Malaikat, jangankan gunung dan samudra alam semesta pun taakan mampu” teriak pemuda itu balik mengejek.
            Malaikat itu segera mengambil seluruh benda yang ada di alam semesta: matahari, bulan, bumi, planet, komet dan lain-lain. Tapi tak juga mampu membuat timbangan itu njomplang ke kiri.
Malaikat itu menghampiri pemuda itu sambil berkat, “wahai pemuda tampan, benda-benda apakah yang kau taruh di timbangan itu sehingga beratnya melebihi berat seluruh alam semesta?”
            “Itu adalah Cinta”
            “Cinta? apa itu?”
            “Kau taakan tahu. Sekarang bolehkah aku membawa ibuku ke surga?”
            “Balum. Aku akan melapor dulu kepada Tuhan karena kejadian ini sangatlah aneh bagiku”
            “Lho kan sudah jelas yang kanan lebih berat dari pada yang kiri. Kurang apa lagi?”
            “Aku tidak bisa memutuskan. Aku minta fatwa dulu kepada Tuhan”. Malaikat itu melesat pergi.
            Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa layar raksasa. Pemuda itu tak sabar lagi dan mendekati malaikat itu. Semua mata tertuju kepada layar raksasa itu.
            “Mbah Semi... Mbah Semi. Siran mbah” kata seorang anak yang datang tergopoh-gopoh.
            “Siran kenapa?”
            “Siran ngamuk di Musholla”
            Mbah Semi yang sudah renta itu berlari ke mushola. Dilihatnya anak satu-satunya itu memegang kayu besar dan memukul-mukulkanya ke benda-benda yang ada didepanya. “Siran, Sudah....sudah. ayo pulang ya. Simbok memasak makanan kesukaanmu lho, semur jengkol” kata mbah semi penuh kasih. Laki-laki gila itu menatap Mbah Semi, ibunya. Dibuangnya kayu yang dipegangnya itu dan digandeng tangan ibunya pulang.
            Sehabis jamaah maghrib Mbah Semi menghadap imam mushola, “Pak maafkan anak saya ya”.
            “Ya mbah. Tapi...”
            “Tapi apa Pak?”
            “Begini Mbah, gelas dan piring investasi musholla banyak yang pecah”
            “Ya sudah nanti saya ganti semua”
            Layar itu menampilkan adegan berikutnya.
            Tampak seorang pemuda mengetuk pintu rumah Mbah Semi.
“Eh Mas Pardi. Silahkan masuk Mas. Maaf rumah saya berantakan. Tadi Siran ngamuk lagi. Ada apa ya Mas?”
            “Begini Mbok tadi pagi waktu di sawah baju dan celana kolor saya di buang siran ke sungai. Jadi saya ke sini mau minta ganti”
            O... begitu. Iya-iya nanti pasti saya ganti, tapi besok ya sebab saya harus beli dulu di pasar”. Keesokan harinya Mbah Semi pergi ke pasar membeli baju dan celana kolor sebagai ganti baju dan celana Mas pardi yang dibuang siran ke sungai.
            Anak Mbah Semi satu-satunya itu memang gila sejak kecil. Dia suka ngamuk dan punya kebiasaan membuang apa saja yang ditemuinya. Sudah tak terhiung banyaknya barang-barang yang dibuangnya sehingga tidak sedikit dana yang dikeluarkan Mbah Semi demi mengganti barang-barang itu. Perhiasanya sudah hampir habis terjual karena ulah anak satu-satunya itu.
            Dulu Mbah Semi pernah membawa anaknya berobat ke rumah sakit jiwa. Bukan hanya sekali tetapi empat kali namun tak ada hasilnya. Entah sudah berapa kali Mbah Semi datang ke Kiai dan paranormal demi kesembuhan anaknya. Tetapi hasilnya nihil.
            “Mengapa Siran tak dibawa ke panti saja to yu. Di sana ada yang merawatnya dan Yu Semi nggak usah mengeluarkan banyak uang “kata Mbah Surti, adik Mbah Semi, suatu kali.
            “Ngak Sur. Bagaimanapun Siran itu anakku. Biar aku sendiri yang merawatnya. Aku sangat sayang kepada dia. Siapa tahu dialah yang menolongku kelak di akhirat”
            “Tapi Yu kalu begini terus hartamu bisa habis untuk menganti barang-barang yang dirusak dan dibuang Siran”
            “Aku sudah Siap kok sur. Biarlah hartaku habis asal aku tetap bersama siran. Dia itu miliku satu-satunya.
            Subehanalloh................
            

No comments:

Post a Comment